Skip to main content

Teori Aktan Model A.J. Greimas


Sejauh mana pemahaman Anda mengenai Teori Aktan atau seringkali disebut juga sebagai Teori Aktansial ataupun Teori Aktansial Model A.J. Greimas? 
Berdasarkan pemahaman saya yang didasarkan pada studi tentang Aktan, secara ringkas saya dapat menjelaskannya dalam uraian berikut ini:

Teori Aktan yang dikembangkan oleh A.J. Greimas merupakan model pendekatan alur. Teori model A.J. Greimas digunakan untuk meneliti tindakan-tindakan tokoh yang dianggap sentral dalam cerita, berikut obsesi dan motivasinya, yang mewakili peristiwa-peristiwa utama di dalam alur cerita.
Perlu diketahui bahwa teori ini ditemukan oleh A. J. Greimas sekitar tahun 1960-an, yang dinamakan teori struktural model aktan (Hebert, 2005: 63). Model aktan adalah alat yang secara teoretis dapat dipakai untuk menganalisa berbagai tindakan riil maupun tematik, namun khusus untuk yang ada di dalam teks sastra atau gambar (ibid.).


Dalam Zaimar (2002: 23) dinyatakan bahwa istilah 'aktan' dalam konsepsi Greimas, artinya adalah pelaku tindakan. Pelaku tindakan tidak dapat digeneralisir sebagai tokoh. Oleh karena itu, pengertian tentang aktan tidak sama dengan pengertian tentang tokoh. Lebih lanjut, Zaimar menjelaskan perbedaan konsep 'aktan' dengan konsep 'tokoh' dalam uraian berikut ini :
  1. Seorang tokoh-aktor dapat memegang beberapa peran aktansial. Misalnya, bisa terjadi dalam suatu cerita, bahwa si pengirim juga merupakan penerima.
  2. Beberapa tokoh-aktor bersama-sama dapat mengisi satu peran aktansial. Jadi, misalnya peran penentang dapat ditempati oleh sekelompok tokoh.
  3. Suatu peran aktansial, kadang-kadang dapat diisi bukan oleh tokoh manusia, melainkan oleh sesuatu yang tidak bernyawa atau sesuatu yang abstrak. Misalnya saja aktan penentang yang dapat diisi oleh gada (senjata), bisa juga oleh kesadaran subjek.
  4. Sebuah ceritera yang kompleks dapat mengandung beberapa alur. Tokoh yang menempati peran aktan subjek pada alur yang satu, bisa menjadi aktan pengirim pada alur yang lainnya (ibid.)

    Di dalam model aktan, suatu tindakan dapat dipecah menjadi enam komponen atau aktan (Hebert, 2005: 63). Enam komponen tersebut antara lain adalah Pengirim (Sender), Penerima (Receiver), Subjek (Subject), Objek (Object), Penolong (Helper), serta Penentang (Opponent). Enam komponen aktan sebagaimana disebut di atas digolong-golongkan menjadi tiga oposisi yang mana masing-masing membentuk sebuah sumbu deskripsi aktan :
  1. Sumbu hasrat (the axis of desire): (1) subjek / (2) objek.
  2. Sumbu kekuatan (the axis of power): (3) penolong / (4) penentang.
  3. Sumbu transmisi (the axis of transmission atau the axis of knowledge): (5) pengirim / (6) penerima (ibid.). 
Analisis aktan adalah dengan memasukkan masing-masing elemen tindakan yang digambarkan ke dalam kelas-kelas aktan (ibid,).

Skema Aktansial





Keterangan :

1. Sumbu Hasrat (Objek - Objek)
  • Subjek atau pahlawan (hero) adalah aktan yang, atas permintaan pengirim, mengadakan perjanjian dengan pengirim, dan menganggap bahwa telah menjadi tugasnyalah untuk mendapatkan objek. Pertanyaannya adalah : "Siapa yang mendapat tugas mencari objek, siapa yang bisa mendapatkan objek?"
  • Objek adalah sesuatu yang dingini pengirim, yang tak ada pada diri pengirim. Pertanyaannya adalah : "Apakah yang diingini si pengirim atau dicari subjek?"
2. Sumbu Kekuatan (Penolong - Penentang)
  • Penolong adalah aktan yang membantu subjek melaksanakan tugasnya. Pertanyaannya adalah : "Siapakah yang mempermudah tugas subjek untuk mendapatkan objek?"
  • Penentang adalah aktan yang membantu subjek melaksanakan tugasnya. Pertanyaannya adalah: Siapakan yang mempermudah tugas subjek untuk mendapatkan objek?
3. Sumbu Transmisi (Pengirim - Penerima)
  • Pengirim adalah aktan yang mempunyai karsa, dialah yang menggerakkan cerita. Dia yang menentukan objek yang dicari dan dia pula yang dapat meminta subjek/pahlawan (hero) untuk mendapatkan objek yang dikehendaki. Pertanyaan untuk menentukan aktan ini adalah : "Siapa yang mempunyai karsa untuk mendapatkan objek yang dikehendaki?"
  • Penerima adalah aktan yang menerima objek yang dicari. Pertanyaan untuk menemukannya adalah : Siapa yang menerima objek?" (Zaimar, 2002: 22-23)


REFERENSI

Hebert, Louis. 2005. Tools for Text and Image Analysis An Introduction to Applied Semiotics    (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Julie Tabler).

Zaimar, Okke K.S. 2002. Strukturalisme dalam Pelatihan Teori dan Kritik Sastra, PPPG Bahasa 27-30 Mei 2002. Jakarta: PPKB-LPUI.

Comments

Popular posts from this blog

Sunset in Bogor

I didn’t know the hotel I booked comes with this kind of view. From the rooftop of Royal Hotel Bogor, some side of the city opens wide. As you can see in the distance, Gunung Salak stands calm against the evening sky.  The Cisadane River is shimmering quietly, winding through neighborhoods that has already begun to dim.  Looking downward, train tracks run like a quiet underline to the day’s last sentence.  Last bu not least, the sun is dipping lower. No rush. No drama.

Rica-Rica Entog and Nasi Liwet at Simpang Lima Semarang

Last Saturday night (4/19/2025), my wife and I made a 10-kilometer trip from our home in Mranggen to enjoy dinner at Simpang Lima, the heart of the city’s culinary scene. We ordered a delicious plate of rica-rica entog ( spicy duck stew ) with white rice (Rp50,000) and nasi liwet ayam ( chicken coconut rice ) (Rp25,000). The spicy, flavorful rica-rica and the savory nasi liwet were perfectly paired with refreshing es sirup (Rp10,000), es teh (Rp5,000), and crispy kerupuk (Rp2,000). The generous portions made it well worth the price. Dining at Simpang Lima isn’t just about the food—it’s about the vibrant atmosphere, lively crowd, and the energy of the night. The combination of amazing dishes and the unique ambiance made our visit truly unforgettable, EXCEPT THE HEAT!!

Karang Payung Beach: A Pristine Gem on Java's Southern Coast

On April 3rd, during the Eid holiday break, I found myself standing above one of Java’s hidden gems—Karang Payung Beach. With its soft white sand, crystal-clear turquoise waves, and a pristine stretch of shoreline, this place felt like a private paradise carved away from the world. The beach is tucked beneath lush cliffs, with natural rock formations creating a dramatic view that invites you to pause and just breathe in the beauty. It’s not a crowded destination, which makes it perfect for those seeking peace and solitude amidst nature. The waves rolled in rhythmically, crashing gently against the rocks, while the bright blue sky met the vast ocean on the horizon. This was the kind of view that made the Eid holiday feel even more meaningful—a moment of reflection and quiet joy, far from the bustle of everyday life. If you're looking for a tranquil getaway in southern Java, Karang Payung is a must-visit. Just be prepared for a bit of a hike down—but the vie...